Alkisah, ada seorang raja muda yang pandai. Ia memerintahkan semua mahaguru terkemuka dalam kerajaannya untuk berkumpul dan menulis semua kebijaksanaan dunia ini. Mendengar perintah raja muda itu, mereka segera mengerjakannya dan empat puluh tahun kemudian, mereka telah menghasilkan ribuan buku berisi kebijaksanaan. Raja, yang pada saat itu telah mencapai usia enam puluh tahun, berkata kepada mereka, “Saya tidak mungkin dapat membaca ribuan buku. Ringkaslah dasar-dasar semua kebijaksanaan itu.”
Kemudian semua mahaguru meringkas buku-buku itu, dan setelah sepuluh tahun, mereka akhirnyai berhasil meringkas seluruh kebijaksanaan dunia dalam seratus jilid.
“Itu masih terlalu banyak,” kata sang raja. “Saya telah berusia tujuh puluh tahun. Ringkaslah semua kebijaksanaan itu ke dalam inti yang paling dasar"
Maka orang-orang bijak itu mencoba lagi dan memeras semua kebijaksanaan di dunia ini ke dalam hanya satu buku.Namun pada saat itu Raja sudah terbaring di tempat tidur kematiannya.
Maka pemimpin kelompok mahaguru itu memeras lagi kebijaksanaan-kebijaksanaan itu ke dalam hanya satu pernyataan, “Manusia hidup, berjuang, kemudian mati. Satu-satunya hal yang tetap bertahan adalah cinta.”
Mungkin kisah di atas hanyalah dongeng semata. Tapi tidak dapat dipungkiri bahwa pernyataan terakhir pemimpin mahaguru itu benar adanya. Hanya cinta yg tetap ada.
Kamis, 30 September 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

4 comments:
Hmm, saya masih memikirkan intisari dari cerita di atas. Apakah cinta yang dimaksud adalah cinta sang raja pada kebijaksanaan?
menurut saya inti dari kebijaksaan itu sendiri adalah tidak ada yang abadi, kecuali cinta.. :) itu menurut saya lho..
dengan suatu kecintaan maka kita dapat menjaLankan suatu aktifitas dengan enjoy dan pasti, sehingga untuk menentukan kebijakan tersebut kiranya perLu kehati-hatian daLam menentukan sikap.
@ om rame: betulll...
Posting Komentar