Jumat, 17 September 2010

Bersama Kita akan Melewatinya

Seorang tentara bernama Bob Butler pada tahun 1965 kehilangan kedua kakinya karena terkena ledakan ranjau saat perang Vietnam. Dia akhirnya pulang sebagai seorang pahlawan perang. Dan setelah dua puluh tahun, dia membuktikan bahwa heroisme itu datang dari dalam hati.



Alkisah pada suatu hari di musim panas, Butler sedang bekerja di garasi di sebuah kota kecil di Arizona. Di tengah-tengah bekerja, tiba-tiba terdengar teriakan histeris seorang wanita yang berasal dari belakang rumah tetangganya. Kemudian Butler segera bergegas mengayuh kursi rodanya ke asal suara itu terdengar. Tetapi setibanya di sana, pagar rumah itu terkunci, sehingga tidak mungkin baginya yang memakai kursi roda untuk lewat. Tapi tanpa putus asa, ia kemudian turun dari kursi, berjuang melompati pagar dengan kedua tangannya lalu merayap dengan cepat melewati semak dan rerumputan. “Tidak peduli apakah itu akan menyakitkan dan melukai tubuhku sendiri, saya harus segera sampai pada wanita itu” kata Butler sambil terus bergerak.

Setiba nya ia di belakang rumah, dia terus mengikuti teriakan itu sampai ke kolam renang. Di sana ternyata ada seorang balita perempuan yang terlahir tanpa tangan berumur tiga tahun tergeletak di dasar kolam dan tidak bisa berenang. Ibu gadis kecil yang bernama Stephanie itu hanya berdiri di tepi kolam sambil berteriak histeris. Dengan sigap Butler segera melompat ke dasar kolam renang dan membawa gadis kecil yang wajahnya sudah kebiruan, tidak ada detak jantung dan tak bernafas itu keluar.
 Menyadari keadaan gadis itu, ia segera memberi nafas buatan saat ibu Stephanie menelpon 911. Dengan panik kemudian ibunya bilang bahwa semua petugas sedang bertugas keluar, dan tidak ada petugas yang berjaga di kantor. Kemudian Ibunya Stephanie hanya mampu menangis di bahu Butler.

Sembari terus memberi nafas buatan, Butler menenangkan wanita itu. “Jangan kuatir, saya sudah menjadi tangannya untuk membawanya keluar dari kolam. Dia akan baik-baik saja. Sekarang saya sedang menjadi paru-parunya. Bersama kita akan bisa melewatinya.” kata nya tenang

Dan ternyata benar, dua menit kemudian gadis kecil itu terbatuk-batuk, siuman dan mulai menangis. Ketika mereka berpelukan dan bersyukur, wanita itu bertanya bagaimana Butler bisa tahu bahwa semua akan bisa teratasi dengan baik.
Maka Butler mulai bercerita, "saat kedua kaki saya terkena ranjau di perang Vietnam, saya seorang diri di tengah lapangan. Tidak ada seorang pun yang datang untuk menolong, kecuali seorang anak perempuan Vietnam. Kemudian dengan susah payah ia menyeret tubuh saya ke desa, dan berbisik dengan bahasa Inggris yang terpatah-patah, ‘Semuanya OK. Kamu bisa hidup. Saya menjadi kakimu. Bersama kita bisa melewati semuanya.’ Dan sekarang adalah giliran saya untuk membalas semua yang sudah saya terima.” kata Butler kepada wanita itu.

Kita semua adalah malaikat-malaikat bersayap sebelah. Hanya bila saling membantu, kita semua dapat terbang. (Luciano De Crescenzo)

Sumber: http://www.kasihlestari.org/v2/kisah...til.php?id=210

0 comments:

Posting Komentar