Rabu, 15 September 2010

Hukuman Tanpa Kekerasan

Kisah nyata Dr. Arun Gandhi ( cucu Mahatma Gandhi )

Arun saat itu masih berusia 16 tahun. Ia tinggal bersama orang tuanya dan dua orang saudanya disebuah lembaga yang didirikan oleh kakeknya, Mahatma Gandhi. Tempat itu jauh, tak bertetangga dan terletak di tengah-tengah kebun tebu, 18 mil di luar kota Durban, Afrika selatan. Maka mereka sangat senang jika diajak ke kota sekedar bertamu atau nonton bioskop.

Suatu hari ayahnya hendak ke kota untuk menghadiri konferensi sehari penuh, dan ia meminta Arun untuk mengantarnya. Arun sangat gembira dan langsung menyetujui permintaan ayahnya. Karena sekalian ke kota, ibunya meminta agar Arun belanja untuk keperluan sehari-hari, dan ayah nya meminta agar Arun memperbaiki mobil mereka ke bengkel.


Setiba di tempat konferensi, ayahnya berpesan agar Arun menunggunya di tempat itu jam 5 sore, karena ayahnya ingin mereka pulang bersama-sama. Kemudian Arun pergi untuk mengerjakan pekerjaan yang ditugaskan padanya. Sambil menunggu waktu mpbilnya diperbaiki, Arun pergi ke bioskop. Di sana dia menonton film yang diperankan oleh John Wayne, dan sangking terpikatnya, dia pun menonton sampai dua kali sehingga lupa waktu. Saat sadar dan melihat jam, ternyata jam sudah menunjukkan pukul 17:30. Maka Arun langsung berlari menuju bengkel mobil dan terburu-buru ke tempat konferensi. Saat tiba, hampir pukul 6 sore dan ayahnya yang sudah menunggu sedari tadi.

"Kenapa kau terlambat?" tanya sang ayah. Arun yang malu dan takut menjawab jujur, menjawab "Tadi, mobilnya belum selesai sehingga saya harus menunggu". Padahal tanpa sepengetahuan Arun, ayahnya telah menelepon bengkel mobil itu. Dan ayahnya tahu kalau Arun jelas-jelas berbohong.
 "Ada sesuatu yang salah dalam membesarkan kau sehingga kau tidak memiliki keberanian untuk menceritakan kebenaran kepada ayah. Untuk menghukum kesalahan ayah ini, ayah akan pulang ke rumah dengan berjalan kaki sepanjang 18 mil dan memikirkannya baik- baik.". kata ayahnya kemudian.

Lalu, Ayahnya mulai berjalan kaki pulang ke rumah. Hari sudah gelap, padahal jalanan sama sekali tidak rata. Arun yang merasa menyesal karena kebodohan terbodoh yang dia lakuakan selama lima setengah jam hanya mampu mengendarai mobil pelan-pelan dibelakang beliau dan melihat penderitaan yang dialami oleh ayahnya.
Sejak itu Arun tidak pernah akan berbohong lagi.

*Pernyataan Arun:*
"Sering kali saya berpikir mengenai episode ini dan merasa heran. Seandainya Ayah menghukum saya sebagaimana kita menghukum anak-anak kita, maka apakah saya akan mendapatkan sebuah pelajaran mengenai tanpa kekerasan? Saya kira tidak. Saya akan menderita atas hukuman itu dan melakukan hal yang sama lagi. Tetapi, hanya dengan satu tindakan tanpa kekerasan yang sangat luar biasa, sehingga saya merasa kejadian itu baru saja terjadi kemarin. Itulah kekuatan tanpa kekerasan."

0 comments:

Posting Komentar