Dia memandang langit malam itu sambil memegang selembar sapu tangan yang lusuh. Ya, lusuh dan usang, tapi mempunyai kenangan yang sangat dalam akan sosok ibu serta kasih nya tak pernah pudar.
Ayah nya tidak mempunyai penghasilan yang cukup. Ibunya selain menitipkan nasi uduk dan kue- kue di kantin dan warung - warung lain, beliau hanyalah seorang penjaga kantin di sebuah SMP swasta di Bekasi. Namun, dari hasil jerih payah ibunya lah, dia dan adik-adiknya mendapatkan uang saku semenjak SD sampai SMA.
Jarang sekali dia melihat ibunya pakai bedak, apalagi make-up. Dia baru melihat ibunya pakai make-up pada saat dia sudah beranjak dewasa. Itu pun pada saat dia diwisuda bersama ribuan wisudawan Unesa di Islamic Center, Surabaya sekian tahun yang lampau.
Sejak lulus, dia memutuskan untuk tinggal di Surabaya,hanya pada saat liburan Lebaran atau liburan Natal dia pulang ke Bekasi.
Waktu terus berlalu, kesibukannya membuat ia jarang berkomunikasi dengan keluarganya di Bekasi, dan pada saat dia berjanji akan memperkenalkan calon pendamping hidupnya, Ibunya datang ke Surabaya, pada saat itulah, beliau memberinya sapu tangan lusuh tersebut. Saat itu dia sama sekali tak tahu makna pemberian itu. Kemudian Ibunya bilang bahwa ternyata sapu tangan itu adalah sapu tangan yang digunakan untuk mengompres nya saat dia mengalami kecelakaan motor yang membuat kaki nya patah pada 31 Desember 1998. Dan Ibunya masih terus menyimpan sapu tangan tersebut untuk memendam rasa kangen padanya sejak dia mulai kuliah tahun 1999 di Surabaya. Setelah berkisah, Ibunya memberikan sapu tangan itu dan merestui hubungan mereka berdua.
Mungkin bagi sebagian orang kisah ini terasa biasa saja. Bagaimana mungkin bahwa sapu tangan yang sudah usang itu masih disimpan sekian tahun hanya untuk memendam kangen pada anaknya?
Bukan dengan kata-kata, tapi dengan cara-cara yang tak kita pahami, sorang ibu seolah menampar anaknya dengan cinta yang sederhana. Cinta tulus yang tak pernah berharap balasan dari anaknya sendiri sekalipun. Zaman boleh berubah. Tapi, cinta dan kerinduan seorang ibu tak bisa digerus waktu. Ia ada sampai kapan pun. Tak bisa dibalas dengan apa pun...
Senin, 13 September 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 comments:
Posting Komentar